Lintas Astronomi

Bimasakti Ternyata Semakin Ramping

Peneliti dari SDSS menggunakan data gerak bintang jauh untuk menentukan massa Bimasakti. Kredit Gambar : SDSS
Peneliti dari SDSS menggunakan data gerak bintang jauh untuk menentukan massa Bimasakti. Kredit Gambar : SDSS
Galaksi Bimasakti telah kehilangan bobotnya. Tidak tanggung-tanggung ia kehilangan sekitar triliunan Matahari. Yang pasti ini bukan karena Bimasakti sedang diet sehingga ia menjadi lebih langsing melainkan lebih kepada akurasi skala. Masalah bobot inilah yang jadi penemuan Sloan Digital Sky Survey (SDSS-II) yang akan membawa kita pada pemahaman baru mengenai Bimasakti.
Menurut Xiangxiang Xue dari National Astronomical Observatories of China yang memimpin tim internasional dalam penelitian ini, galaksi jauh lebih ramping dari yang diduga. Artinya terdapat lebih sedikit materi kelam dari yang diyakini sebelumnya, dan tampaknya Bimasakti jauh lebih efisien dam mengubah persediaan hidrogen dan heliumnya jadi bintang.
Penemuan Xue tersebut didasarkan pada data SEGUE (Sloan Extension for Galactic Understanding and Exploration), survey bintang di Bimasakti yang merupakan satu di antara 3 program milik SDSS-II. Dengan menggunakan pengukuran SEGUE terhadap kecepatan bintang di bagian terluar Bimasakti, pada area yang disebut halo bintang, para peneliti menentukan massa galaksi dari jumlah gravitasi yang dibutuhkan untuk membuat bintang tetap stabil pada orbitnya. Sebagian gravitasi berasal dari bintang di Bimasakti namun sebagian besar garvitasi justru berasal dari distribusi materi kelam.
Untuk melacak distribusi massa galaksi, team SEGUE menggunakan contoh dari 2400 bintang yang ada pada cabang horisontal biru (”blue horizontal branch”). Bintang di cabang tersebut bisa diketahui jaraknya dari kecerlangannya. Bintang pada cabang horisontal biru bisa terlihat pada jarang yang sangat jauh sehingga memungkinkan tim ini mengukur kecepatan bintang sampai dengan jarak 180000 tahun cahaya dari Matahari.
Hasil penelitian massa Bimasakti yang ada sebelumnya menggunakan beragam contoh dari 50 – 500 objek, dan ditemukan total massa galaksi Bimasakti mencapai 2 triliun massa Matahari. Berbeda dari hasil sebelumnya, penelitian dengan menggunakan pengukuran SDSS-II sampai jarak 180000 tahun cahaya justru mengkoreksi total massanya yakni berkurang sampai di bawah 1 triliun massa Matahari. Ukuran SEGUE yang besar memberi keuntungan, karena bisa dipilih set pelacak yang seragam dan sejumlah besar bintang yang ada bisa dipakai untuk mengkalibrasi metode yang digunakan dengan hasil simulasi.
Menurut kolaborator Timothy Beers dari Michigan State University, memang tidak mudah untuk menentukan massa total galaksi karena kita berada di dalam galaksi itu sendiri. Namun kita bisa mengetahuinya dari data yang ada jika kita ingin mengetahui dan memahami Bimasakti dan kemudian kita bisa membandingkannya dengan galaksi jauh yang bisa kita lihat dari luar.
Sumber : SDSS

Mengintip Pola Makan Lubang Hitam

Galaksi spiral M81. Kredit Gambar : X-ray: NASA/CXC/Wisconsin/D.Pooley and CfA/A.Zezas; Optical: NASA/ESA/CfA/A.Zezas; UV: NASA/JPL-Caltech/CfA/J.Huchra et al.; IR: NASA/JPL-Caltech/CfA
Galaksi spiral M81. Kredit Gambar : X-ray: NASA/CXC/Wisconsin/D.Pooley and CfA/A.Zezas; Optical: NASA/ESA/CfA/A.Zezas; UV: NASA/JPL-Caltech/CfA/J.Huchra et al.; IR: NASA/JPL-Caltech/CfA
Bagaimana sebuah lubang hitam raksasa makan? Ternyata pola makan lubang hitam terbesar bisa jadi sama saja dengan lubang hitam yang kecil. Tak percaya? Inilah data terbaru dari Chandra X-ray Observatory milik NASA dan teleskop landas bumi. Penemuan ini mendukung teori relativitas Einstein yang menyatakan lubang hitam dengan berbagai ukuran memiliki sifat yang mirip dan akan berguna dalam penentuan sifat konjektur kelas lubang hitam yang baru.
Kesimpulan tersebut dihasilkan setelah dilakukan perbandingan antara lubang hitam raksasa di galaksi spiral M81 dengan lubang hitam berukuran massa bintang.
Galaksi spiral M81, yang berada pada jarak 12 juta tahun cahaya dari bumi memiliki sebuah lubang hitam masif yang massanya 70 juta massa Matahari. Lubang hitam tersebut menghasilkan energi dan radiasi saat ia menarik gas pada area pusat galaksi ke arah dalam dengan kecepatan tinggi.
Di sisi lain, lubang hitam yang kecil yang massanya 10 kali massa Matahari, memiliki sumber makanan yang berbeda. Lubang hitam kecil ini memperoleh materi baru dengan menarik gas dar bintang pasangan yang sedang mengorbit. Ternyata lubang hitam besar dan kecil memiliki lingkungan yang berbeda dengan sumber materi makanan yang berbeda pula. Pertanyaannya, di mana letak kesamaan keduanya saat makan?
Dengan menggunakan hasil observasi terbaru dan detail teori yang ada, dilakukan perbandingan antara sifat lubang hitam di M81 dengan lubang hitam dengan massa bintang. Hasilnya, besar ataupun kecil, lubang hitam tampak makan dengan cara yang sama, dan menghasilkan distribusi yang mirip dari sinar X, cahaya optik dan cahaya radio.
Implikasi yang didapat dari teori relativitas umum milik Einstein dari kasus ini adalah, lubang hitam adalah objek sederhana. Hanya saja massa dan spin dari lubang hitam ini akan menentukan efek mereka dalam ruang-waktu. Riset terbaru mengindikasikan kalau kesederhanaan tersebut terlihat, meskipun berada dalam efek lingkungan yang kompleks. Dan hasilnya, didapat konfirmasi juga, jika pola makan dari lubang hitam dalam berbagai ukuran bisa sangat mirip.
Menurut Michael Nowak dari Massachusetts Institute of Technology, setelah melihat data yang ada ternyata model yang mereka miliki cocok, baik untuk lubang hitam raksasa di M81 maupun untuk lubang hitam lainnya yang kecil. Semua yang ada di sekeliling lubang hitam raksasa tampak sama dengan yang kecil, kecuali ukurannya yang 10 juta kali lebih besar.
Dan di antara lubang hitam yang sedang aktif untuk makan, lubang hitam di M81 merupakan salah satu yang paling redup. Diperkirakan hal ini terjadi karena ia masih kekurangan makanan. Namun, walaupun lubang hitam ini kurang makan, ia merupakan salah satu yang paling terang terlihat dari Bumi karena letaknya yang relatif dekat, sehingga hasil observasi dengan kualitas tinggi bisa didapat.
“Tampaknya lubang hitam yang kurang makan sangat sederhana dan praktis, mungkin karena kita bisa melihat ke lubang hitam itu lebih dekat,” kata Andrew Young dari University of Bristol di Inggris. Ia juga menyebutkan kalau lubang hitam tersebut tampaknya tidak terlalu peduli dari mana mereka mendapatkan makanannya.
Pekerjaan ini juga akan sangat berguna untuk menentukan sifat kelas ketiga yang belum dikonfirmasikan , yang disebut sebagai kelas massa menengah lubang hitam, dengan massa yang berada di antara batas massa bintang dan lubang hitam supermasif. Walau belum dikonfirmasikan, beberapa kandidat penghuni kelas ini sudah teridentifikasi, meskipun buktinya masih merupakan kontroversi. Dengan demikian, diharapkan melalui penemuan baru ini prediksi yang lebih spesifik bisa dilakukan dalam menentukan sifat kelas lubang hitam tersebut.
Pengamatan lubang hitam di galaksi spiral M81 dilakukan oleh Chandra X-ray Observatory, 3 teleskop radio (the Giant Meterwave Radio Telescope, the Very Large Array and the Very Long Baseline Array), 2 teleskop milimeter (the Plateau de Bure Interferometer and the Submillimeter Array) dan Lick Observatory. Pengamatan tersebut dilakukan secara simultan untuk memastikan perubahan cahaya yang terjadi sebagai akibat laju makan lubang hitam. Selain itu, Chandra merupakan satelit sinar-X satu-satunya yang dapat mengisolasi sinar X lemah milik lubang hitam dari emisi lainnya di galaksi tersebut.

Samakah Hukum di Bumi dan di Galaksi Lain?

Pengujian hukum alam di galaksi jauh untuk melihat apakah hukum alam berlaku sama di semua tempat di alam semesta ini dan sama pada waktu yang berbeda pula. Kredit Gambar : Telescope: N. Junkes; Radio insets: A. Biggs; Intervening galaxy: NASA, ESA, STScI & W. Keel; Quasar: NASA, ESA, STScI & E. Beckwith
Pengujian hukum alam di galaksi jauh untuk melihat apakah hukum alam berlaku sama di semua tempat di alam semesta ini dan sama pada waktu yang berbeda pula. Kredit Gambar : Telescope: N. Junkes; Radio insets: A. Biggs; Intervening galaxy: NASA, ESA, STScI & W. Keel; Quasar: NASA, ESA, STScI & E. Beckwith
Hukum alam di seluruh penjuru alam semesta ternyata sama saja dengan yang ada di Bumi. Kesimpulan ini didapat oleh tim astronom yang melakukan penelitian, termasuk di dalamnya Chrisian Henkel dari Max Planck Institute for Radio Astronomy (MPIfR) di Bonn. Hasil penelitian mereka menunjukkan, angka perbandingan proton -elektron, hampir sama di Galaksi yang jaraknya 6 milyar tahun cahaya dengan yang ada di laboratorium di Bumi, yakni mendekati 1836,15
Menurut Michael Murphy, astrofisikawan dari Swinburne, penemuan ini sangat penting karena sampai saat ini masih terjadi perdebatan apakah hukum alam akan berubah pada waktu dan tempat yang berbeda di alam semesta ini. Dengan adanya penelitian ini, bisa terbukti, hukum alam di Galaksi jauh ternyata sama degan hukum alam di Bumi.
Bagaimana kesimpulan ini bisa didapat? Para astronom melakukan penentuan rasio massa proton-elektron itu dengan melihat kembali ke masa lalu pada quasar jauh, B0218+367. Cahaya quasar tersebut ternyata membutuhkan waktu 7,5 milyar tahun untuk mencapai kita, dan sebagian cahaya tersebut juga telah diserap oleh gas amonia galaksi yang ia lewati.
Amonia yang dalam kehidupan sehari-hari kita kenal berguna untuk membersihkan toilet, ternyata merupakan molekul ideal untuk menguji pemahaman fisika di alam semesta. Observasi spektroskopi terhadap molekul amonia dilakukan dengan teleskop radio Effelsberg 100 meter pada panjang gelombang 2 cm (pergeseran merah 1,3 cm dari panjang gelombang asal). Panjang gelombang di mana amonia menyerap energi radio dari quasar ternyata menunjukan sensitivitas pada angka fisika nuklir, yakni perbandingan massa proton-elektron.
Dengan melakukan perbandingan terhadap penyerapan yang dilakukan amonia dengan penyerapan dari molekul lain, didapatkan perbandingan massa proton-elektron di galaksi tersebut. Dan ternyata, perbandingannya sama dengan yang ada di Bumi.
Penelitian ini akan terus dilanjutkan dengan meneliti hukum alam di galaksi lainnya untuk waktu yang berbeda, sehingga akan tampak apakah hukum alam tersebut akan tetap bertahan di tempat-tempat yang baru tersebut. Dengan penelitian yang akan terus berlanjut ini, para peneliti berharap bisa menemukan jendela menuju dimensi lain di ruang angkasa, yang secara teoretis dinyatakan mungkin ada.

Bahwa Alam Semesta Sudah Tua

Banyak cara yang berbeda satu sama lain digunakan untuk menjelaskan berapa umur semesta, dan walaupun berbagai metodologi itu dilakukan secara terpisah, tetapi memberikan gambaran yang berkesesuaian satu sama lain untuk menjelaskan umur semesta ini secara obyektif. Demikian dibawah ini akan diperkenalkan beberapa jalinan metode tersebut.
Umur Alam Semesta Yang Mengembang
Model alam semesta setelah ledakan besar. Kredit : NASA/WMAP Science Team
Model alam semesta setelah ledakan besar. Kredit : NASA/WMAP Science Team
Jarak galaksi dapat ditentukan dari ukuran yang tampak atau kecerlangannya. Galaksi yang tampak lebih kecil dan lebih redup dari galaksi lain yang serupa, berarti berjarak lebih jauh. Jarak juga bisa ditentukan menggunakan penanda jarak yang lain, seperti beberapa jenis bintang. Selain jarak, laju galaksi bergerak bisa dtentukan dengan pengetahuan spektrum-nya. (Spektrum cahaya dari galaksi adalah apabila kita memecah cahaya menjadi komponen warna-nya seperti pelangi). Dengan pengetahuan spektrum cahaya bisa memberikan identitas obyek apa yang diamati, maupun bagaimana obyek diamati bergerak, karena setiap spektrum obyek yang berbeda memberikan pola yang unik.
Christian Doppler di tahun 1842 menunjukkan bahwa ketika sumber cahaya bergerak, gerakan tersebut menyebabkan mengubah gelombang, mengubah warna yang dilihat pada spektrum. Efek ini dikenal sebagai efek Doppler. Pengetahuan tentang efek Doppler ini memberitahu kita apakah suatu sumber cahaya mendekati atau menjauhi kita. Dari sini kita bisa mengetahui bagaimana benda-benda langit bergerak terhadap kita sebagai pengamat di Bumi, dan berapa cepat pergerakannya.
Di tahun 1920-an, Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi – galaksi bergerak terhadap kita dengan pola tertentu. Semakin jauh galaksi dari kita, semakin cepat pergerakannya. Pola ini yang dikenal sebagai “alam semesta mengembang”, karena pola perilaku ini terlihat pada semua arah di langit. Jadi bisa saja dianggap bahwa semua galaksi bergerak menjauhi galaksi Bima Sakti, tetapi tidak bisa dikatakan begitu saja bahwa Bima Sakti sebagai pusat semesta, karena pola yang sama bisa saja teramati oleh pengamat yang berada di galaksi yang lain. Jadi tidak serta merta disimpulkan dari pekerjaan Hubble bahwa kita berada pada pusat semesta atau kita berada pada posisi yang istimewa dalam semesta.
Kembali pada pengukuran pergeseran cahaya yang teramati, ahli astronomi mencoba mengukur berapa lama pengembangan telah terjadi. Jika diasumsikan bahwa semua galaksi berangkat dari titik awal yang sama, maka bisa dideduksi, berapa jauh yang telah ditempuh suatu galaksi dan berapa kecepatan tempuhnya, kemudian membagi jarak terhadap laju. Dengan menambahkan faktor – faktor fisis yang realistis seperti adanya pengaruh gravitasi, atau adanya inflasi alam semesta, umur semesta diperoleh antara 12 sampai 14 milyar tahun.
Umur Bintang Paling Tua
Bagaimana bintang bisa menyala? Bagaimana menentukan umurnya? Berapa lama bintang dapat menyala? Bintang (termasuk Matahari) dapat bersinar karena adanya proses termonuklir di dalamnya, yang berfungsi sebagai generator pembangkit energi, akibat perubahan hidrogen menjadi helium; akibat panas dan tekanan yang sangat intens dalam inti bintang, inti hidrogen ber-fusi menjadi inti helium dan energi yang terpancarkan. Proses fisis ini bisa digunakan untuk mengukur umur bintang.
Fisika nuklir bisa menjelaskan berapa banyak energi yang dihasilkan dari fusi setiap atom hidrogen. Diketahui berapa banyak hidrogen panas dalam inti bintang, dan berapa cepat bintang menggunakan energinya untuk bersinar. Dengan demikian bisa dihitung berapa lama bintang bersinar sebelum kehabisan seluruh bahan bakarnya. Jika bintang telah kehabisan hidrogen di intinya, bintang berubah menjadi ‘raksasa merah’. Ketika kita menemukan adanya bintang raksasa tersebut, bisa ditentukan massa awalnya, tenaga awalnya, dan kala hidupnya dapat ditentukan. Demikian setelah diukur berbagai bintang yang telah tua tersebut, diperoleh dari metode ini umur semesta berkisar antara 10 – 15 milyar tahun.
Umur Cahaya Dari Galaksi Terjauh
Sebagaimana yang telah diungkap tentang jarak dalam ‘tahun cahaya’, pengamatan memberikan informasi tentang galaksi yang sangat jauh, sehingga yang cahaya dikirimkan oleh galaksi tersebut butuh milyaran tahun untuk mencapai pengamat. Dari hal tersebut, sepertinya kita sedang menggunakan mesin waktu, ketika kita mengamati langit, kita mengamati peristiwa yang telah terjadi di waktu yang telah berlalu. Pengamatan dari Hubble Space Telescope memberikan jarak terjauh galaksi yang teramati mencapai 10 milyar tahun cahaya, dengan demikian paling tidak semesta kita ini telah berumur 10 milyar tahun.
Umur Komposisi Kimia
Setelah ledakan besar awal (big bang), semesta tersusun dari elemen – elemen paling sederhana, yaitu hidrogen dan helium. Galaksi yang sangat-sangat jauh merupakan bukti bahwa hal ini memang demikian adanya, karena memiliki komposisi hidrogen dan helium yang jauh lebih besar. Komposisi kimia yang lebih kompleks dari hidrogen dan helium terbentuk kemudian akibat reaksi nuklir dalam inti bintang, atau ketika bintang yang sangat masif berakhir nasibnya dalam ledakan besar (supernova). Di dalam supernova yang teramati, terdapat elemen kimia yang terbentuk setelah 10-20 milyar tahun.
Paling tidak ada empat metode yang saling independen dipergunakan untuk menentukan umur alam semesta, kendati tidak tepat sama, tetapi paling tidak menunjukkan adanya kesesuaian, umur semesta sudah lebih dari 10 milyar tahun. Dan semua astronom sependapat dan berkeyakinan, bahwa semesta, semua galaksi, bintang-bintang benar-benar sudah tua dan telah tercipta di suatu masa yang sangat lampau.

Kesabaran 16 Tahun Berbuah Monster di Jantung Bima Sakti

Area pusat galaksi Bima Sakti. Kredit : ESO
Area pusat galaksi Bima Sakti. Kredit : ESO
Setelah melakukan studi panjang selama 16 tahun menggunakan teleskop milik ESO, tim astronom dari Jerman berhasil memperlihatkan kondisi paling detil yang pernah ada dari area di sekitar jantung galaksi Bima Sakti – area dari monster menakutkan si lubang hitam supermasif. Penelitian ini mengungkap rahasia yang tersimpan di area tersebut melalui pemetaan orbit 28 bintang. Bahkan satu bintang di antaranya telah berhasil melakukan putaran penuh mengelilingi lubang hitam.
Pengamatan gerak 28 bintang yang mengorbit area pusat galaksi Bima Sakti, menunjukan keberadaan lubang hitam supermasif yang tengah mengintip kita dari balik debu antar bintang. Ia dikenal sebagai Sagittarius A (atau dikenal sebagai bintang Sagittarius A). Berbagai informasi termasuk bentuk istimewa bintang-bintang tersebut dan juga lubang hitam yang mengikat mereka berhasil dikuak.
Pusat galaksi merupakan laboratorium yang unik dimana kita bisa belajar proses-proses dasar gravitasi yang besar dan kuat, serta dinamika dan pembentukan bintang yang memiliki keterkaitan yang sangat besar dengan inti galaksi. Disinilah pabrik kelahiran bintang dan tempat berlabuh sang monseter menakutkan, lubang hitam supermasif. DI area ini jugalah kita bisa mempelajari lubang hitam dengan lebih mendetil.
Tapi untuk mengamati area ini tidaklah mudah. Pengamatan dalam panjang gelombang tampak tidak dapat menembus blokade yang dibuat oleh debu antar bintang yang mengisi galaksi. Pandangan kita ke jantung sang galaksi ini terhalang. Kemampuan teknologi menjadi tantangan untuk dapat mengintip apa yang terjadi di sana. Untuk itu, digunakanlah panjang gelombang infra merah untuk menembus blokade debu antar bintang tersebut. Dan bintang-bintang di area pusat galaksi kemudian dijadikan partikel penguji untuk mengungkap apa yang ada di sana. Bintang-bintang itu diamati geraknya selama mengorbit Sagittarius A.
Hasil yang diperoleh sangat berguna untuk memahami lubang hitam itu sendiri contohnya dalam hal massa dan jarak. Dan tampaknya 95% massa yang mempengaruhi gerak bintang tersebut adalah lubang hitam. Karena itu, kecil kemungkinan penyebabnya adalah karena materi kelam lain. Tak pelak, hasil ini menjadi bukti empirik keberadaan lubang hitam supermasif, yang diperlihatkan oleh bintang yang megorbit pusat galaksi. Dalam pengamatan, diketahui adanya konsentrasi massa yang besar sekitar 4 juta massa Matahari yang diyakini sebagai lubang hitam yang berada pada jarak 27000 tahun cahaya.
Dari ke-28 bintang yang diamati, 6 di antaranya mengorbit lubang hitam dalam sebuah piringan dan bintang-bintang pada area paling dalam memiliki orbit acak. Bintang S2 menjadi satu-satunya bintang yang berhasil mengelilingi pusat Bima Sakti periode 16 tahun tersebut.
Untuk membangun citra jantung Bima Sakti dan menghitung orbit bintang individu, tim ini mempelajari bintang-bintang tersebut selama 16 tahun, dimulai pada tahun 1992 menggunakan kamera SHARP yang dipasang di New Technology Telescope 3,5 meter milik ESO di Observatorium La Silla, Chille. Observasi lainnya dibuat pada tahun 2002 dengan 2 instrumen yang ada di Very Large Telescope (VLT).
Walau penelitian ini berhasil membuka lembaran baru bagi pembelajaran lubang hitam dan kondisi area pusat galaksi dalam tingkat akurasi yang tinggi, namun masih banyak misteri yang belum terkuak di sana. Apalagi bintang-bintang tersebut juga masih sangat muda untuk melakukan perjalanan jauh. Diduga, bintang-bintang ini terbentuk pada orbitnya saat ini dibawah pengaruh gaya pasang surut lubang hitam.
Di masa depan, berbagai rancangan penelitian lanjutan akan dilakukan untuk mengintip monster di jantung Bima Sakti itu. Salah satunya dengan menggunakan teknologi dengan resolusi sudut yang lebih tinggi.
Sumber : ESO

Penemuan Planet Extra-Galaktik Pertama

ak ada batas akhir bagi akal para astronom. Mungkin inilah yang bisa kita katakan tentang penemuan baru ini.
Perubahan yang membawa pada penemuan panet baru di Galaksi Andromeda. Kredit  :TR
Perubahan yang membawa pada penemuan panet baru di Galaksi Andromeda. Kredit :TR
Saat ini seperti yang kita ketahui, ada lebih dari 300 exoplanet yang telah ditemukan dengan laju penemuan yang semakin besar dari waktu ke waktu. Dari semua yag telah ditemukan, baru satu planet yang terlihat secara langsung, Lainnya ditemukan dari efek yang ditimbulkan planet pada bintang induknya, yakni dengan melihat pada perubahan keerlangan sang bintang saat planet melewatinya. Jika demikian, tentunya kita harus bisa melihat bintang tersebut. Dengan kata lain, pengamatan hanya bisa dilakukan pada area lokal yakni di Bima Sakti.
Setidaknya itulah yang dilakukan para astronom, sampai saat ini.
Tapi, tidak demikian bagi Gabriele Ingroso dari National Institute of Nuclear Physics, Italia, beserta rekan-rekannya. Bagi mereka, ada kok cara untuk menemukan planet di galaksi lain. Caranya adalah dengan memanfaatkan fenomena lensa mikro dimana gravitasi satu bintang memfokuskan cahaya dari objek yang jauh ke Bumi.
Keuntungannya, lensa mikro bekerja sangat baik untuk objek jauh, sehingga bisa dikatakan sangat ideal untuk perburuan planet di galaksi lain. Secara teori, sangat memungkinkan untuk melihat objek berukuran Bumi dengan cara ini. Namun kekurangannya adalah, lensa mikro ini relatif cepat, dimana kejadian berlangsung maksimal hanya beberapa hari. Ini tentunya membuat pengamatan jadi lebih sulit untuk diuji.
Sulit untuk bisa mengamati bintang tunggal bahkan planet, Namun sejauh ini, para astronom berhasil mengenali sejumlah bintang di Andromeda melalui cara ini. Selain itu perencanaan untuk mengamati lebih banyak bintang pun tinggal hanya selangkah lagi.
Tapi, di tengah semua perencanaan itu, ada sebuah berita baru.
Cahaya dari salah satu bintang di Andromeda menunjukan perubahan yang menjadi petunjuk keberadaan objek lain yang mengorbit si bintang.
 M31, Galaksi Andromeda. Kredit : Robert Gendler / APOD
M31, Galaksi Andromeda. Kredit : Robert Gendler / APOD
Dan hasil analisis Ingrossso dan rekan-rekannya menunjukan kalau objek tersebut memiliki massa sekitar 6 massa Jupiter. Objek ini sedang menuju ke area klasifikasi sebagai bintang katai coklat. Namun ia juga masih berada dalam area sebagai sebuah planet.
Jika ia adalah planet, maka inilah planet extra-galaktik yang pertama.
Sumber : Technology Review

Usia Transisi Galaksi Dalam Gumpalan

Apa yang terjadi pada usia transisi galaksi dan lubang hitam akhirnya diketahui. Hal ini tentunya tak lepas dari data baru yang dihasilkan Observatorium Sinar-X Chandra dan teleskop lainnya. Penemuan ini membantu manusia untuk menyingkap asal mula gumpalan gas raksasa yang diamati berada di sekitar galaksi muda.
Citra yang disusun dalam pengamatan gumpalan di SSA22. Kredit : X-ray NASA/CXC/Durham Univ./D.Alexander et al.; Optical NASA/ESA/STScI/IoA/S.Chapman et al.; Lyman-alpha Optical NAOJ/Subaru/Tohoku Univ./T.Hayashino et al.; Infrared NASA/JPL-Caltech/Durham Univ./J.Geach et al.
Citra yang disusun dalam pengamatan gumpalan di SSA22. Kredit : X-ray NASA/CXC/Durham Univ./D.Alexander et al.; Optical NASA/ESA/STScI/IoA/S.Chapman et al.; Lyman-alpha Optical NAOJ/Subaru/Tohoku Univ./T.Hayashino et al.; Infrared NASA/JPL-Caltech/Durham Univ./J.Geach et al.
Sekitar satu dekade lalu, astronom berhasil menemukan waduk gas hidrogen yang besar yang mereka namakan “blobs” (gumpalan) – saat melakukan survey galaksi-galaksi muda pada jarak yang jauh. Gumpalan ini bersinar sengat terang pada cahaya optik, namun sumber energi yang membuatnya bercahaya beserta asal muasal dan sifatnya masih belum dapat diketahui.
Pengamatan panjang yang dilakukan Chandra berhasil mengidentifikasi sumber energi tersebut untuk pertama kalinya. Data sinar-X menunjukkan sumber kekuatan dari struktur kolosal ini yakni berasal dari lubang hitam supermasif yang sedang bertumbuh dan sebagiannya tersembunyi di balik lapisan tebal debu dan gas. Kembang api dari pembentukan bintang di dalam galaksi juga tampak memegang peranan penting, dan ini disingkap oleh teleskop Spitzer dan teleskop landas bumi.
Selama 10 tahun misteri gumpalan ini terkubur dari pandangan manusia, namun kini Chandra membantu kita untuk bisa melihat rahasia tersembunyi itu. Menurut James Geach dari Universitas Durham di UK, mereka kini bisa memiliki argumen penting tentang aturan apa yang ada di dalam pembentukan galaksi dan lubang hitam.
Galaksi diyakini terbentuk saat gas mengalir ke arah dalam di bawah pengaruh gaya gravitasi dan kemudian mengalami pendinginan oleh radiasi. Proses akan berhenti saat gas dipanaskan oleh radiasi dan mengalir keluar dari galaksi dan lubang hitam. Blob atau gumpalan merupakan tahap pertama atau tahap kedua dari proses pembentukan itu.
Berdasarkan data baru dan argumen teoretik, Geach dan rekan-rekannya menunjukan pemanasan gas oleh lubang hitam supermasif yang sedang tumbuh dan ledakan dari pembentukan bintang, yang diduga justru memberi kekuatan pada gumpalan tersebut. Implikasinya, gumpalan ini merupakan representasi dari tahapan dimana galaksi dan lubang hitam akan mulai berpindah ke tahap pertumbuhan yang cepat sebagai akibat proses pemanasan. Tahap ini sangat penting dalam evolusi galaksi dan lubang hitam, dan sudah sejak lama para astronom berusaha untuk memahami prosesnya.
Para astronom berhasil melihat tanda dalam usia transisi dari galaksi dan lubang hitam di dalam gumpalan yang mendorong kembali gas dan mencegahnya untuk pertumbuhan lebih lanjut. Galaksi masif akan melalui tahapan ini atau mereka akan membentuk terlalu banyak bintang dan segera berakhir masa hidupnya.
Ilustrasi galaksi dalam gumpalan. kredit : NASA/CXC/M.Weiss
Ilustrasi galaksi dalam gumpalan. kredit : NASA/CXC/M.Weiss
Chandra, Spitzer dan teleskop lainnya melakukan pengamatan pada 29 gumpalan dalam satu area raksasa di langit yang dikenal sebagai SSA22. Gumpalan dengan jarak beberapa ratus ribu tahun cahaya ini terlihat saat alam semesta baru berusia 2 milyar tahun atau 15% dari usia saat ini
Dalam 5 blobs / gumpalan, Chandra mengungkapkan tanda lubang hitam supermasif yang sedang bertumbuh – sebuah sumber titik dengan pancaran sinar-X yang sangat cerlang. Lubang hitam raksasa ini diperkirakan berada pada pusat kebanyakan galaksi yang ada saat ini termasuk di Bima Sakti. Pada 3 blobs lainnya juga ditemukan bukti yang mengarah pada kemungkinan keberadaan lubang hitam. Selain itu, data Spitzer menunjukkan beberapa galaksi juga didominasi oleh jumlah pembentukan bintang yang cukup banyak. Radiasi dan aliran yang sangat kuat dari lubang hitam dan pembakaran pada pembentukan bintang jika dikalkulasi menunjukan adanya energi yang cukup besar untuk menyalakan gas hidrogen di dalam gumpalan tempat mereka berada.
Untuk kasus dimana tanda keberadaan lubang hitam tidak terdeteksi, gumpalannya jauh lebih redup. Penelitian ini tak hanya berhasil menjelaskan dari mana sumber energi gumpalan melainkan juga memberi arahan akan masa depannya. Dalam skenario pemanasan, gas di dalam gumpalan tidak akan mendigin untuk membentuk bintang melainkan akan ditambahkan pada gas panas yang ditemukan di antara galaksi. SSA22 sendiri akan dapat berevolusi menjadi kluster galaksi masif.
Di awal, gumpalan ini akan memberi makan galaksi-galaksi yang ada. Namun yang terlihat sekarang seperti sisa, sehingga untuk bisa mengungkap lebih jauh lagi para astronom harus menjelajah waktu ke belakang untuk menangkap galaksi dan lubang hitam saat mereka membentuk si gumpalan.
Sumber : Chandra, Eureka Alert
0 comments

Aktivitas2 astronomi

Evolusi Bintang

Seperti manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan. Sebutannya adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi manusia, terutama karena kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari sebagai bintang terdekat harus kita kenali sifat-sifatnya lebih jauh.
Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak kelahiran sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk mengamati bintang yang memiliki usia hingga milyaran tahun. Jika demikian tentunya timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa menyimpulkan tahap-tahap evolusi sebuah bintang?  
Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kembali menganalogikan bintang dengan manusia. Jumlah manusia di bumi dan bintang di angkasa sangat banyak dengan usia yang berbeda-beda. Kita bisa mengamati kondisi manusia dan bintang yang berada pada usia/tahapan evolusi yang berbeda-beda. Ditambah dengan pemodelan, akhirnya kita bisa menyusun teori evolusi bintang tanpa harus mengamati sebuah bintang sejak kelahiran hingga akhir evolusinya.
Kelahiran bintang
Bintang lahir dari sekumpulan awan gas dan debu yang kita sebut nebula. Ukuran awan ini sangat besar (diameternya mencapai puluhan SA) tetapi kerapatannya sangat rendah. Awal dari pembentukan bintang dimulai ketika ada gangguan gravitasi (misalnya, ada bintang meledak/supernova), maka partikel-partikel dalam nebula tersebut akan bergerak merapat dan memulai interaksi gravitasi di antara mereka setelah sebelumnya tetap dalam keadaan setimbang. Akibatnya, partikel saling bertumbukan dan temperatur naik.
Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)
Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)
Semakin banyak partikel yang merapat berarti semakin besar gaya gravitasinya dan semakin banyak lagi partikel yang ditarik. Pengerutan awan ini terus berlangsung hingga bagian intinya semakin panas. Panas tersebut dapat mendorong awan di sekitarnya. Hal ini memicu terjadinya proses pembentukan bintang di sekitarnya. Demikian seterusnya hingga terbentuk banyak bintang dalam sebuah awan besar. Maka tidaklah heran jika kita mengamati sekelompok bintang yang lahir pada waktu yang berdekatan di lokasi yang sama. Kelompok bintang inilah yang biasa kita sebut dengan gugus.
Akibat pengerutan oleh gravitasi, temperatur dan tekanan di dalam awan naik sehingga pengerutan melambat. Di tahap ini, bola gas yang terbentuk disebut dengan proto bintang. Apabila massanya kurang dari 0,1 massa Matahari, maka proses pengerutan akan terus terjadi hingga tekanan dari pusat bisa mengimbanginya. Pada saat tercapai kesetimbangan, temperatur di bagian pusat awan itu tidak cukup panas untuk dimulainya proses pembakaran hidrogen. Maksud dari pembakaran di sini adalah reaksi fusi atom hidrogen menjadi helium. Awan ini pun gagal menjadi bintang dan disebut dengan katai gelap.
Jika massanya lebih dari 0,1 massa Matahari, bagian pusat proto bintang memiliki temperatur yang cukup untuk memulai reaksi fusi saat dirinya setimbang. Reaksi ini akan terus terjadi hingga helium yang sudah terbentuk mencapai 10 – 20 % massa bintang. Setelah itu pembakaran akan terhenti, tekanan dari pusat menurun, dan bagian pusat ini runtuh dengan cepat. Akibatnya temperatur inti naik dan bagian luar bintang mengembang. Saat ini, bintang menjadi raksasa dan tahap pembakaran helium menjadi karbon pun dimulai. Di lapisan berikutnya, berlangsung pembakaran hidrogen menjadi helium. Setelah ini kembali akan kita lihat bahwa evolusi bintang sangat bergantung pada massa.
Untuk bintang bermassa kecil (0,1 – 0,5 massa Matahari), proses pembakaran hidrogen dan helium akan terus berlangsung sampai akhirnya bintang itu menjadi katai putih. Sedangkan pada bintang bermassa 0,5 – 6 massa Matahari, pembakaran karbon dimulai setelah helium di inti bintang habis. Proses ini tidaklah stabil, akibatnya bintang berdenyut. Bagian luar bintang mengembang dan mengerut secara periodik sebelum akhirnya terlontar membentuk planetary nebula. Bagian bintang yang tersisa akan mengerut dan membentuk bintang katai putih.
Berikutnya adalah bintang bermassa besar (lebih dari 6 massa Matahari). Di bintang ini pembakaran karbon berlanjut hingga terbentuk neon. Lalu neon pun mengalami fusi membentuk oksigen. Begitu seterusnya hingga secara berturut-turut terbentuk silikon, nikel, dan terakhir besi. Kita bisa lihat di diagram penampang bintang di bawah ini, bahwa reaksi fusi sebelumnya tetap terjadi di luar lapisan inti. Sehingga ada banyak lapisan reaksi fusi yang terbentuk ketika di bagian pusat bintang sedang terbentuk besi.
Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)
Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)
Evolusi Lanjut
Setelah reaksi yang membentuk besi terhenti, tidak ada proses pembakaran selanjutnya. Akibatnya, tekanan menurun dan bagian inti bintang memampat. Karena begitu padatnya, jarak antara neutroon dan elektron pun mengecil sehingga elektron bergabung dengan neutron dan proton. Peristiwa ini menghasilkan tekanan yang sangat besar dan mengakibatkan bagian luar bintang dilontarkan dengan cepat. Inilah yang disebut dengan supernova.
Apa yang terjadi setelah supernova bergantung pada massa bagian inti bintang yang tadi terbentuk. Apabila di bawah 5 massa Matahari (batas massa Schwarzchild), supernova menyisakan bintang neutron. Disebut demikian karena partikel dalam bintang ini hanya neutron. Bintang neutron biasanya terdeteksi sebagai pulsar (pulsating radio source, sumber gelombang radio yang berputar). Pulsar adalah bintang yang berputar dengan sangat cepat, periodenya hanya dalam orde detik. Putarannya itulah yang menyebabkan pulsasi pancaran gelombang radionya.
Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)
Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)
Di atas 5 massa Matahari, gaya gravitasi di inti bintang begitu besarnya sehingga dirinya runtuh dan kecepatan lepas partikelnya melebihi kecepatan cahaya. Objek seperti ini disebut dengan lubang hitam. Tidak ada objek yang sanggup lepas dari pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Makanya benda ini disebut lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Satu-satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari interaksi gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah satu lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-bintang di pusat galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu hanya bisa ditimbulkan oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah lubang hitam.
Hingga saat ini, pengamatan terhadap bintang-bintang masih terus dilakukan. Teori evolusi bintang di atas bisa saja berubah kalau ada bukti-bukti baru. Tidak ada yang kekal dalam sains, dan tidak ada kebenaran mutlak. Apa yang menjadi kebenaran saat ini bisa saja terbantahkan di kemudian hari. Itulah uniknya sains: dinamis.

Hujan Meteor Lyrids

Setiap bulan April sekitar tanggal 22, jangan lupa untuk mengamati langit dinihari. Saat itu ada peristiwa astronomi menarik sedang terjadi, yaitu hujan meteor Lyrid. Nama Lyrid berarti arah radian meteor tersebut berasal dari rasi Lyra, sebuah rasi di sebelah utara dengan bintang terangnya yang bernama Vega. Jumlah meteor yang bisa kita lihat saat itu adalah sekitar 15 buah per jam. Namun terkadang bisa mencapai 60 buah per jamnya!
Meteor adalah peristiwa masuknya batuan ke atmosfer Bumi. Karena bergesekan dengan partikel di atmosfer, batuan tersebut memanas dan terkikis, bahkan memijar. Pijaran inilah yang kita sebut meteor, atau sering disebut dengan bintang jatuh. Kebanyakan meteor dalam sebuah hujan meteor akan terbakar habis di atmosfer karena ukurannya kecil. Tetapi ada juga meteor yang tidak habis di atmosfer melainkan terus turun dan menumbuk permukaan Bumi. Tumbukan ini dapat menghasilkan kawah dan sisa batuan yang ditemukan disebut meteorit. Meteorit ini biasanya bukan berasal dari hujan meteor, tetapi termasuk dalam kelompok meteor sporadis karena ukurannya yang lebih besar.
Posisi rasi Lyra dan Vega 22 April pk 3 dinihari
Posisi rasi Lyra dan Vega 22 April pk 3 dinihari
Suatu hujan meteor terjadi jika Bumi memasuki area di orbitnya yang memiliki banyak batuan. Dari manakah asal batuan itu dan kenapa jumlahnya banyak? Kometlah yang meninggalkan batuan tersebut. Komet yang sedang mendekati Matahari akan meninggalkan jejak berupa serpihan batuan di lintasannya. Apabila komet tersebut melintas begitu dekat dengan orbit Bumi (atau bahkan berpotongan dengannya), maka kita akan mengalami hujan meteor jika Bumi melewati wilayah itu. Hujan meteor Lyrid diperkirakan berasal dari komet Thatcher, yang ditemukan tahun 1861.
Bagaimana cara menikmati hujan meteor Lyrid ini? Persiapannya adalah kita harus cari tempat datar dengan pemandangan langit yang tak terhalang. Lalu tikar/alas untuk tiduran, baju hangat, serta makanan ringan dan minuman hangat juga kalau perlu. Tidak perlu teleskop atau binokular. Hujan meteor adalah fenomena mata telanjang. Memakai alat bantu justru tidak dianjurkan karena meteor adalah objek yang bergerak cepat, kita tidak bisa melihatnya melalui piranti tersebut.
Untuk melihat sebuah hujan meteor, kita tidak perlu berkonsentrasi ke arah radiannya saja. Karena meteor justru akan tersebar di segala arah. Oleh karena itu, apabila kita hanya memperhatikan rasi Lyra saja, kita mungkin akan kehilangan kesempatan melihat komet di sebelah selatan atau arah lain. Inilah mengapa kita harus mencari area dengan pemandangan langit yang seluas-luasnya.
Sayangnya, hujan meteor Lyra kali ini berlangsung ketika Bulan sedang dalam fase cembung akhir. Artinya, cahaya Bulan akan sangat mengganggu kenampakan meteor yang redup. Sehingga jumlah meteor yang terlihat jadi lebih sedikit. Walaupun begitu, fenomena ini tetap menarik untuk diamati. Jadi, selamat melakukan pengamatan :) .

Merkurius, Planet Terkecil, Terdekat, dan Tercepat

Merkurius adalah planet terkecil di tata surya dan terdekat dari Matahari. Nama planet ini diambil dari nama dewa pengantar pesan jaman Romawi kuno. Ia diberi nama tersebut karena pergerakannya di langit yang sangat cepat.
Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)
Planet Merkurius (Sumber: Wikipedia)
Dari Bumi, Merkurius hanya bisa diamati secara visual pada jarak maksimum 28,3 derajat dari Matahari. Artinya, planet ini hanya terlihat di langit timur sebelum Matahari terbit atau di barat setelah Matahari terbenam. Dengan jarak sudut sekecil itu, kita hanya memiliki waktu maksimum selama 1 jam 53 menit saja untuk mengamati planet ini, yaitu pada saat Merkurius mencapai elongasi maksimalnya. Jadi, kita tidak akan pernah bisa melihat Merkurius berada di zenith (lihat gambar di bawah). Karena kemunculannya yang bergantian itu planet ini sempat diidentifikasi oleh masyarakat Yunani kuno sebagai 2 benda yang berbeda. Kala itu, Merkurius yang muncul di langit timur diberi nama Apollo dan yang muncul di langit barat diberi nama Hermes.
Jika kita berada di Merkurius, kita dapat menyaksikan Matahari bergerak retrograde di langit. Di satu lokasi, setelah terbit di timur dan sebelum melintasi meridian, Matahari akan sedikit bergerak mundur lalu kembali bergerak ke barat hingga terbenam. Begitu pula setelah Matahari terbenam, ia akan mengalami gerak retrograde sekali lagi (walaupun tidak dapat diamati). Akibatnya, satu hari di sana (sekali siang dan sekali malam) sama dengan 176 hari Bumi (sekitar 6 bulan). Silakan lihat sendiri dengan menggunakan program simulasi langit Stellarium.
Penyebab gerak retrograde Matahari itu berkaitan dengan periode revolusi dan rotasinya. Periode revolusi Merkurius adalah 88 hari Bumi, sedangkan periode rotasinya adalah 58,7 hari Bumi. Kita bisa lihat bahwa perbandingan periode rotasi dan revolusinya adalah 2/3. Artinya, planet ini menyelesaikan 2 kali revolusinya dalam waktu yang bersamaan dengan 3 kali rotasi.
Planet dalam jika dilihat dari Bumi (Sumber: Wikipedia)
Planet dalam jika dilihat dari Bumi (Sumber: Wikipedia)
Hubungan antara periode rotasi dan revolusi ini (disebut juga dengan resonansi) adalah hal yang unik di tata surya. Resonansi yang umum terdapat di tata surya adalah 1:1. Artinya, periode rotasi sama dengan periode revolusi. Misalnya pada sistem Pluto dan Charon, yang masing-masing memiliki periode rotasi yang sama dengan periode revolusi Charon terhadap Pluto. Akibatnya, Pluto dan Charon saling menunjukkan permukaan yang tetap. Bulan juga memiliki resonansi 1:1 karena periode rotasinya sama dengan periodenya mengelilingi Bumi. Kita tahu akibatnya, yaitu permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi selalu tetap.
Ciri fisik
Planet batuan ini hanya berdiameter 4800 km. Ukuran ini lebih kecil dari Ganymede dan Titan, 2 satelit terbesar di tata surya. Tetapi Merkurius masih lebih masif dari keduanya. Dan kerapatannya 5,43 g/cm^3, menjadikannya benda dengan kerapatan tertinggi kedua di tata surya setelah Bumi. Ketebalan bagian inti planet ini lebih dominan relatif terhadap ukurannya, yaitu mencapai 60% dari massanya. Jaraknya dari Matahari antara 46 juta km hingga 70 juta km. Eksentrisitas orbitnya paling besar di antara semua planet, yaitu 0,21.
Inklinasi orbit Merkurius terhadap ekliptika adalah 7 derajat. Sudut kemiringan sumbu rotasinya terhadap sumbu revolusi mendekati nol, sekitar 0,027 derajat. Masih lebih kecil dari Jupiter yang sebesar 3,1 derajat. Dengan sudut sekecil itu, tidak ada 4 musim di Merkurius belahan utara dan selatan. Temperatur di permukaannya bervariasi antara 80 – 700 K.
Misi penerbangan ke Merkurius
Merkurius adalah salah satu objek yang sulit diamati, sehingga tidak banyak informasi yang bisa diperoleh darinya. Bahkan, periode rotasi planet ini baru diketahui benar pada tahun 1965 setelah Merkurius diamati dengan radar.
Pengiriman wahana untuk meneliti Merkurius dari dekat pun tidak mudah. Posisinya yang dekat dengan Matahari, ketiadaan atmosfer, dan perbedaan laju orbit adalah beberapa hal yang menyulitkan. Alhasil, hingga kini baru ada 1 misi yang sukses mengamati Merkurius, yaitu Mariner 10.
Wahana Mariner 10 diluncurkan pada 3 November 1973. Proses keberangkatannya yang memanfaatkan planet Venus (sebagai “ketapel” gravitasi) adalah yang pertama dilakukan dalam sejarah penerbangan antariksa. Ketika melintas di dekat Venus, wahana ini mengambil rekaman fotografi ultraungu dari planet itu. Walaupun Venus sudah pernah diamati dengan teleskop landas Bumi sebelumnya, tetap saja foto Venus yang diberikan Mariner 10 ini mengundang kekaguman para peneliti.
Wahana ini telah memberikan pengetahuan luar biasa tentang permukaan Merkurius. Selain itu, wahana ini juga mendeteksi adanya medan magnet di Merkurius. Satu hal yang mengagetkan bagi peneliti karena planet ini memiliki rotasi yang lambat. Akhirnya, pada tahun 1975 Mariner 10 pun sudah tidak berfungsi lagi setelah bahan bakarnya habis dan kontak dihentikan.
Mariner 10 (kiri) dan Messenger (Sumber: Wikipedia)
Mariner 10 (kiri) dan Messenger (Sumber: Wikipedia)
Baru pada tahun 1998, misi terbaru ke Merkurius mulai direncanakan. Wahana pada misi itu dinamai Messenger, yang diluncurkan pada tanggal 3 Agustus 2004. Target misi ini adalah mengorbit Merkurius pada tanggal 18 Maret 2011. Terdapat 6 pertanyaan yang harus dicari jawabannya oleh Messenger: 1. Mengapa kerapatan Merkurius begitu tinggi?; 2. Bagaimana riwayat sejarah geologis planet ini?; 3. Bagaimana sifat medan magnet Merkurius?; 4. Bagaimana susunan internal Merkurius?; 5. Apa materi yang terdapat pada kutub-kutub Merkurius?; dan 6. Bagaimana komposisi atmosfer Merkurius?
Di masa yang akan datang, sebuah misi lagi akan dijalankan. Namanya BepiColombo. Misi ini akan melengkapi data yang didapat Messenger. Direncanakan untuk diluncurkan pada tahun 2013 dan mengorbit Merkurius pada tahun 2019, BepiColombo akan mengumpulkan data selama 1 atau 2 tahun. Para ilmuwan tentunya berharap kedua misi tersebut akan membawa manusia semakin mengenal karakteristik planet kecil ini.


Objek Misterius Luar Angkasa Terbaru Ditemukan

>> 4.24.2010

WASHINGTON - Alam semesta menyimpan banyak misteri yang belum diketahui manusia. Sebuah objek baru yang aneh dan misterius ditemukan di luar angkasa.

Objek misterius tersebut diketahui merupakan 'micro-quasar' atau quasar kecil yang nampak terang benderang. Quasar merupakan sebuah jenis galaksi aktif yang ditemukan di pusat galaksi dan berisi lubang hitam yang sangat besar.



Sejak tahun lalu, tiba-tiba quasar kecil tersebut perlahan mulai menghasilkan gelombang radio dalam jarak sekira 10 juta cahaya, dekat galaksi M82.

Objek luar angkasa baru yang mulai muncul pada Mei 2009 ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak para ilmuwan. "Kami belum pernah menemukan jenis quasar yang seperti ini sebelumnya," ujar Tom Muxlow, ahli astronomi di University of Manchester, Inggris.

Seperti dilansir Space, Selasa (20/4/2010), M82 disebut juga 'starburst galaxy', yaitu galaksi yang terpecah dan menghasilkan bintang-bintang baru pada tingkat yang luar biasa. Sebagian besar bintang-bintang ini mati dalam ledakan besar, dengan supernova terjadi setiap 20 hingga 30 tahun pada M82.

Objek misterius tersebut menyala dengan cepat dalam beberapa hari dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mati, bahkan setelah menyala selama hampir satu tahun.

Namun begitu, objek yang baru ditemukan ini berjarak 100 tahun cahaya dari pusat M82, cukup jauh untuk terhubung dengan pusat galaksi. Micro-quasar, sama seperti quasar lain yang berukuran lebih besar, nampaknya melibatkan zat yang berputar memasuki lubang hitam.

Memang luar biasa alam semesta..

Sumber : http://techno.okezone.com/read/2010/04/20/56/324415/objek-misterius-luar-angkasa-terbaru-ditemukan

Fakta dibalik Black Hole dan White Hole

Kenapa Black Hole lebih sering disebut-sebut dibandingkan dengan White hole???

apa mungkin karena lebih sering difilmkan ataukah belum ada teori mengenai lubang putih yang menurut para ilmuwan merupakan lawan dari black hole tersebut???

Atau karena Black Hole memiliki konotasi yang lebih sangar dan keren atau seram dibandingkan White Hole????

Untuk lebih jelasnya simak yang satu ini :


Quote:
Black hole atau lobang hitam, perangkap galaktik yang menyedot segala sesuatu termasuk cahaya, mungkin bukan mesin penghancur seperti yang selama ini dipikirkan, demikian menurut ilmuwan terkemuka, Stephen Hawking.

Hawking mempresentasikan temuan barunya dalam Konferensi Internasional Mengenai Gravitasi dan Relativitas Umum ke 17 di Dublin, Irlandia, Rabu 21 Juli 2004. Hasilnya barangkali akan bisa membantu para ilmuwan memecahkan misteri "paradoks informasi lubang hitam", salah satu teka-teki terbesar di dunia fisika modern, yang sesungguhnya timbul karena pemikiran Hawking sendiri.

Hawking, teori sebelumnya bertentangan dengan hukum fisika quantum
Untuk bisa lebih jelas memahami permasalahan ini, baiklah kita kembali ke tahun 1976. Saat itu, Hawking dengan perhitungannya menyatakan bahwa ketika sebuah black hole terbentuk dari bintang raksasa, ia mulai proses penguapan, memuntahkan energi radiasi --yang disebut Hawking radiation-- dan mulai kehilangan massa.

Radiasi yang memancar ini, dikatakan Hawking, tidak mengandung informasi mengenai materi-materi dalam lubang hitam atau bagaimana ia terbentuk. Nah, bila akhirnya black hole menguap seluruhnya, maka informasi itu pun akan hilang dan tidak akan pernah terungkap lagi.

Pernyataan di atas, tentu saja bertentangan dengan hukum fisika quantum yang menyatakan bahwa informasi tidak bisa benar-benar hilang. Untuk menjawabnya, saat itu Hawking mengatakan black hole adalah perangkap kosmis yang gaya tariknya luar biasa besar, sehingga tidak mematuhi teori fisika quantum.

Kini setelah 30 tahun lewat, ilmuwan jenius itu rupanya berubah pikiran. "Beberapa waktu lalu, saya menemukan bahwa lubang hitam ternyata tidak sehitam yang kita sangka," ujarnya. "Ia ternyata melepaskan informasi melalui apa yang kita sebut sebagai Hawking radiation."

Berdasarkan pemikiran baru ini, Hawking berpendapat sebenarnya beberapa informasi yang terhisap black hole dapat ditemukan kembali lewat apa yang dipancarkannya melalui radiasi.


Selanjutnya Jika Black Hole dibandingkan dengan White Hole berdasarkan Teori Relativitas :


Quote:
Karl Gebhardt dari Universitas Texas di Austin, Amerika Serikat berhasil mengamati lubang hitam (black hole) supermasif yang terletak relatif dekat dengan galaksi raksasa M87, berjarak 50 juta tahun cahaya. Namun demikian, wacana mengenai keberadaan lubang hitam dalam fisika astronomi sudah berlangsung lama.

Berdasarkan pada fisika modern, Einstein sebagai penggagas teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi merupakan akibat dari perubahan arah/pelengkungan ruang dan waktu. Oleh karena itu gravitasi merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari ruang dan waktu.

Einstein membuat gagasan yang benar-benar revolusioner dengan pernyataannya bahwa gaya gravitasi tidaklah bersifat seperti gaya-gaya yang lain. Suatu massa tidak menciptakan sebuah medan gaya di sekitarnya yang akan menyebabkan percepatan massa yang lain, namun massa akan mengubah struktur ruang dan waktu di sekitarnya.

Oleh karena itu jika dalam teori Newton kita akan mengatakan bahwa bumi selalu ditarik oleh matahari karena gaya gravitasinya. Namun dalam teori relativitas umum kita akan mengatakan bahwa matahari telah mempengaruhi struktur ruang dan waktu di sekitarnya sehingga bumi bergerak bebas melintasi sebuah garis geodesik dalam lengkungan ruang dan waktu. Cahaya/foton sebagaimana halnya benda material lainnya tentunya akan bergerak mengikuti lengkungan ruang dan waktu ini sehingga pada benda yang sangat besar dan berat akan terjadi perbelokan cahaya.

Menurut teori relativitas umum, struktur ruang dan waktu ditentukan oleh distribusi massa dan secara prinsip dapat diperoleh dari serangkaian persamaan diferensial teori relativitas umum. Pada penerapan persamaan diferensial ini kita akan menemukan suatu titik yang mengalami singularitas dimana radius ruang dan waktu (R) cenderung menjadi nol sehingga kurva ruang dan waktunya (1/R) menjadi tidak terhingga.

Note: Istilah singularitas disini digunakan dalam perhitungan matematis dimana pada suatu titik objek matematika tidak terdefinisikan. Sebagai contoh f(x) = 1/x akan memiliki titik singularitas pada x = 0 karena pada x = 0, nilai f(x) menjadi tidak terhingga.

Stephen Hawking mengatakan; “pada saat awal dan akhir alam semesta ini, ukuran total alam semesta akan menjadi semakin menciut dan menjadi nol dan dengan massa yang menjadi tidak terhingga dan dengan demikian membuat kelengkungan ruang dan waktu menjadi tak terhingga (terjadi singularitas). Pada saat ini hukum-hukum sains dan kemampuan kita untuk memprediksi masa depan akan terhenti”.

Apakah konsep singularitas dalam teori relativitas umum ini merupakan penjelasan dari adanya fenomena lubang hitam / black hole? Andaikan teori ini benar, maka sebagaimana yang disampaikan oleh Stephen Hawking sudah seharusnya terdapat lawan dari lubang hitam / black hole, yaitu lubang putih / white hole yang merupakan titik singularitas dimana alam semesta ini terlahir.

Dengan demikian konsep penciptaan Veda yang mengatakan adanya pori-pori / lubang kecil tempat lahir dan kembalinya alam semesta dapat diterima secara baik oleh ilmu pengetahuan modern saat ini.


Spoiler for pic




10 Penemuan Terbesar dalam 10 Tahun Terakhir!

1. Gletser Mencair Lebih Cepat Dari Yang Diperkirakan
Ketika abad ke-21 dimulai, para ilmuwan yang mempelajari iklim bumi memprediksi bahwa Ice-Caps raksasa di Greenland dan Antartika akan mencair perlahan-lahan di sekitar pinggiran dan tertinggal di balik pemanasan global secara keseluruhan iklim.
Tapi dekade ini adalah dekade yang terpanas sepanjang catatan sejarah perikliman, membuktikan ada model iklim yang salah.
Gletser telah mencair lebih cepat dari yang diharapkan dan peneliti telah mencari tahu mengapa hal ini bisa terjadi.
The Uptick pencairan es belum terbatas pada Kutub Utara dan Antartika. Gletser Eropa sekarang dianggap memasuki masa dekade terakhir mereka.
Salju Kilimanjaro yang terkenal dan lintang rendah gunung bisa hilang sepenuhnya. Tebal laut es abadi di Arktik menghilang dengan cepat, yang kemungkinan akan membawa musim panas es bebas ke Samudra Arktik.
Ada konsekuensi global untuk pencairan ini. Air laut yang pasang akan membuat kota lebih dan pulau rentan terhadap bencana seperti banjir yang hampir menghancurkan New Orleans.Gunung gletser di seluruh dunia membawa air segar bermilyar-milyar liter. Dengan cara apapun Anda memikirkan masalah itu, Bumi dengan es kurang akan menjadi sebuah planet yang kurang ramah.

2. Genom Manusia Berhasil Dipetakan
Genom manusia melingkar di dalam setiap sel manusia duduk 23 molekul yang jika dibatalkan dan akhir ditempatkan ke ujung, akan terbentang sekitar tiga meter. Mereka merupakan molekul, yang lebih dikenal sebagai kromosom, berisi semua instruksi yang diperlukan untuk membangun seluruh bagian tubuh manusia.
Butuh waktu lebih dari 10 tahun dan kerjasama internasional ilmuwan untuk memetakan genom ini, tapi tahun 2000 melihat draft kasar genom manusia keseluruhan, diikuti dengan versi yang selesai pada tahun 2003.
The Human Genome Project yang didanai publik dan pesaing pribadi, Celera Genomics, merupakan salah satu upaya ilmiah terbesar dalam sejarah, salah satu yang terungkap dalam detail yang intim tentang apa sajakah yang membentuk manusia secara keseluruhan.
Dengan informasi dari peta genom individu, para ilmuwan dapat mengungkap petunjuk baru tentang segala sesuatu dari bau badan seseorang untuk penyakit mental.
Sejak decoding genom manusia, puluhan spesies lain memiliki genom mereka sequencing, termasuk babi, anjing, lebah, nyamuk, ikan kembung, simpanse, ragi, jagung, dan beras. Dengan ditemukannya pemetaan ini, para ilmuwan dapat dan akan menemukan cara baru untuk menyembuhkan penyakit atau meningkatkan hasil panen.

3. Permukaan Mars Memberikan Tanda Air
Pada tahun 2008, astronot NASA, Mars Phoenix mendarat di Planet Merah (Mars) untuk mengkonfirmasi keberadaan air dan mencari tanda-tanda senyawa organik.

Delapan tahun sebelumnya, Mars Global Surveyor melihat apa yang tampak seperti selokan diukir ke samping dengan mengalirkan air. Baru-baru ini, Mars Exploration Rovers telah menemukan mineral yang juga menunjukkan keberadaan air kuno. Tetapi bukti air modern itu sulit dipahami.
Kemudian Phoenix, mendarat di tanah dekat Kutub Utara, dan melakukan beberapa penggalian untuk sampel yang akan digunakan untuk menganalisis. Selama menggali, kamera onboard melihat serbuk putih di tanah yang baru digali. Dalam gambar terlihat perbandingan pada saat ditemukan dengan keesokan harinya, bubuk perlahan-lahan lenyap. Setelah analisis secara intens, bubuk putih dipastikan sebagai es air.
Penemuan ini tidak hanya mengkonfirmasi keberadaan air di Planet Merah, dengan harapan bahwa beberapa jenis kehidupan mikroba mungkin menggunakan pasokan air untuk bertahan hidup.

4. Sel induk Ditemukan di Sumber Baru
Pada tahun 2001, Presiden George W. Bush memotong dana federal untuk ilmuwan yang bekerja dengan sel batang embrio - ditemukan di sebuah bola, kecil berongga dari sekitar 70-100 sel manusia yang bisa menjadi apa pun dalam tubuh manusia - karena masalah etika.
sel batang embrio adalah salah satu kemajuan medis yang paling menjanjikan di tahun itu, dengan potensi untuk menyembuhkan penyakit dari diabetes untuk kanker kelainan genetik, dan banyak lagi.
Pada tahun 2007, para ilmuwan dari Kyoto University dan University of Wisconsin-Madison, bekerja terpisah, pada dasarnya berbalik jam untuk sel-sel kulit orang dewasa, yang memungkinkan sel-sel matang, yang diprogram untuk menjadi kulit, untuk bertindak seperti sel-sel batang embrio. Sel-sel dewasa menjadi sel pluripoten, atau sel yang bisa berakhir menjadi hampir semua jenis lain dari sel.
Sel-sel dewasa pluripoten menyelesaikan dua masalah besar. keprihatinan etis dan pembatasan keuangan dapat dihindari, dan dokter akhirnya bisa menggunakan sel-sel dengan DNA sendiri seseorang untuk tumbuh organ pengganti yang pasien akan kecil kemungkinannya untuk menolak.

5.Manusia Bergabung Dengan Mesin (Cyborg)
Cyborg menjadi kenyataan. Dalam dekade terakhir, banyak kemajuan telah dibuat dengan orang mengendalikan kaki robot dan komputer dengan pikiran mereka.
Pada tahun 2000, para peneliti di Duke University Medical Center menanam elektroda di otak monyet dan kemudian melatih mereka untuk meraih makanan menggunakan lengan robot. Seperti neurochip bisa satu hari mengembalikan fungsi motorik pada pasien lumpuh.
Sebuah tim dari MIT Media Lab Eropa mengembangkan metode non-invasif untuk mengangkat gelombang otak dan pada tahun 2004, digunakan sinyal yang untuk pertama kalinya untuk mengontrol gerakan karakter permainan video.
Anggota badan Robotic dioperasikan dengan sinyal saraf debutnya pada tahun 2001 di Institut Rehabilitasi Chicago. Di sana, Jesse Sullivan, sebuah diamputasi ganda, menggunakan metode untuk mengontrol kedua lengan robot-nya.

Dan pada tahun 2009, diamputasi Pierpaolo Petruzziello belajar untuk mengendalikan tangan biomekanis terhubung ke saraf tangannya dengan kabel adil dan elektroda. Petruzziello menjadi orang pertama yang membuat gerakan kompleks - jari menggeliat, tinju, menyambar benda - dengan anggota badan robot, dengan hanya menggunakan pikirannya.

6. Planet Alien Dapat Dilihat Secara Langsung
Planet-planet asing pertama - disebut exoplanets - sedang terdeteksi pada awal 1990-an, tetapi tidak secara langsung. Pada tahun 2000, astronom mendeteksi segenggam dengan mencari bintang "goyangan," atau peredupan sedikit bintang sebagai planet ekstrasurya lewat di depannya. Hari ini kita telah mengetahui sekitar 400 exoplanets.
Pada tahun 2008, para astronom menggunakan Teleskop luar angkasa Hubble dan Keck inframerah dan observatorium Gemini di Hawaii mengumumkan bahwa mereka telah "melihat" exoplanets mengorbit bintang-bintang jauh. Kedua observatorium telah mengambil gambar dari dunia asing.
Pengamatan Keck adalah deteksi inframerah dari tiga exoplanets mengorbit bintang HR8799 disebut, 150 tahun cahaya dari Bumi. Hubble melihat satu planet besar mengorbit bintang Fomalhaut, 25 tahun cahaya dari Bumi.
Penemuan ini menimbulkan pertanyaan mendalam: Berapa lama harus menunggu hingga kita melihat sebuah dunia mirip Bumi dengan peradaban luar angkasa melihat kembali pada kita?

7. Nenek Moyang Manusia Terbaru Telah Ditemukan
Pada tahun 2002, para peneliti di Chad utara menggali 6 - untuk tengkorak 7-juta-tahun berusia Sahelanthropus tchadensis - dikenal sebagai Toumai. Hanya tulang tengkorak telah ditemukan, sehingga tidak dikonfirmasi apakah Toumai berjalan tegak dengan dua kaki. Tapi Toumai lain tetap membuat kasus yang kuat bahwa hal itu sangat meluas garis keturunan keluarga manusia.
Kemudian datang Ardi. Pada tahun 2009, kerangka yang hampir lengkap dari ramidus Ardipithecus, alias "Ardi," di Ethiopia timur laut menabrak "Lucy" terkenal sebagai kerangka, awal paling lengkap dari sebuah nenek moyang manusia yang pernah ditemukan.
The Ardi 4.4-juta-tahun bisa berjalan dengan dua kaki, tetapi juga pohon pemanjat-terampil. Giginya membuat ia mampu memakan berbagai jenis makanan. Dan ilmuwan berteori bahwa pria dan wanita mungkin telah berpasangan saat ini, secara signifikan meningkatkan kelangsungan hidup, karena perempuan bisa meningkatkan orangtua mereka sementara laki-laki menyediakan makanan.
Jika studi terbukti benar, Ardi menandai terdekat kita datang untuk menemukan nenek moyang terakhir dari simpanse dan manusia.

8. Eksistensi Benda Gelap Dibuktikan Keberadaannya
Pada musim panas tahun 2006, para astronom membuat pengumuman yang membantu manusia memahami kosmos sedikit lebih baik: Mereka memiliki bukti langsung mengkonfirmasi keberadaan materi gelap - walaupun mereka masih tidak dapat mengatakan apa sebenarnya barang tersebut.
Bukti belum pernah terjadi sebelumnya berasal dari inti gas dan bintang melemparkan ke atas sehingga menghancurkan antara dua kelompok besar galaksi di Cluster Bullet.
Sampai saat itu, keberadaan materi gelap itu disimpulkan oleh fakta bahwa galaksi hanya memiliki seperlima dari hal yang terlihat yang diperlukan untuk menciptakan gravitasi yang membuat mereka utuh. Jadi sisanya harus terlihat oleh teleskop: Itu hal gaib adalah "gelap."

Pengamatan dari Bullet Cluster, secara resmi dikenal sebagai cluster galaksi 1E0657-56, tidak menjelaskan apa materi gelap. Mereka itu, bagaimanapun, memberi petunjuk peneliti bahwa partikel materi gelap bertindak dengan cara tertentu, yang penelitian masa depan dapat membangun.

9. Jaringan Dug Dari Tulang T-Rex
Pada tahun 2005, Maria Higby Schweitzer dan rekan-rekannya dilaporkan dalam Ilmu penemuan apa yang tampak seperti jaringan lunak - pembuluh darah, sel-sel matriks dan tulang - tulang paha fosil di dalam daging seekor T-Rex kecil.
Sejak itu, tulang T-Rex telah mengungkapkan asam amino yang mirip dengan ayam modern, peternakan yang berhubungan antara dinosaurus dan burung.
Penemuan Schweitzer berasal dalam satu dekade mendapatkan petunjuk yang menakjubkan lainnya tentang bagian-bagian lunak dinosaurus.
Pada tahun 2004, salah satu dari beberapa mumi dinosaurus yang pernah ditemukan - sebuah menakjubkan terpelihara hadrosaur 66-juta-tahun dengan utuh, kulit kebanyakan mineralisasi - digali dari sebuah peternakan di North Dakota.
Kemudian, pada bulan Juni 2009, peneliti mengumumkan mereka telah molekul terisolasi yang berhubungan dengan jaringan kulit lunak dari hadrosaur itu.

10. Pluto Eris Rocks Yang Berukuran Sebesar Tata Surya
Pada bulan Januari 2005, Mike Brown dan timnya di Observatorium Palomar, California menemukan 136199 Eris, sebuah badan kecil yang 27 persen lebih besar dari Pluto. Pluto Eris telah hadir dan menjadi badan 9 terbesar diketahui mengorbit matahari.
Pada tahun 2006, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) memutuskan bahwa kemungkinan menemukan mayat berbatu lebih kecil di luar tata surya begitu tinggi bahwa definisi "planet" perlu dipertimbangkan kembali. Hasil akhir: Pluto telah direklasifikasi sebagai planet kerdil. Pluto mengakuisisi "penanda planet minor" di depan namanya: "134340 Pluto."
2005 penemuan Mike Brown dari Eris adalah pemicu yang mengubah wajah tata surya kita, mendefinisikan planet Pluto dan menambahkan sebuah keluarga yang berkembang planet kerdil.